Jamuan Makan ‘ala Kampung’


Tempat tinggal saya sekarang bolehlah masih dikatakan kampung ataupun desa, walaupun sebenarnya saya tinggal di perumahan. Ini mengingat dibelakang perumahan masih terhampar areal persawahan serta ada juga beberapa tambak ikan milik para petani tersebut. Pemandangan indah nampak bila padi-padi mulai menguning dan siap untuk dipanen, saya biasanya sering menyaksikan para petani tersebut dengan riangnya memanen hasil panenannya. Suatu pemandangan yang tidak bisa saya saksikan di kota-kota besar seperti Jakarta tentunya. Tinggal di kampung/desa seperti ini terlihat pula jika malam tiba (apalagi bila habis hujan), suara kodok…frog, frog, frog….silih berganti bagai alunan suara instrumental yang dikomandoi oleh seorang komposer.

Rumah tempat saya berteduh sekarang sebenarnya baru tiga tahun ini saya tempati. Setelah sekian tahun berada di kota metropolitan Jakarta. Suatu ketika ada sebuah undangan yang mampir kerumah saya, dimana memberitahukan akan diselenggarakannya acara pernikahan. Menarik buat saya karena undangan ini datang dari ‘orang kampung’ (ada beberapa orang kampung yang bekerja di perumahan ditempat saya tinggal), menarik karena baru pertama kali inilah saya akan menghadiri acara pernikahan di kampung dekat tempat saya tinggal. Bayangan saya kalau acara yang beginian diadakan di kampung/desa tentunya lebih meriah dan jamuannya juga tidak kalah dengan jamuan ala kota.Bagaimana tidak meriah, lha sehari menjelang hari ‘H’nya saja bunyi petasan sudah dar-der-dor ditambah lagi biasanya yang punya hajat menyewa hiburan baik itu layar tancep ataupun musik dangdut.

Setelah menunggu beberapa hari akhirnya hari ‘H’ tersebut datang juga menjemput. Saya memenuhi undangan tersebut bersama dengan teman-teman lainnya di perumahan. Sengaja saya tidak makan dulu pada waktu itu karena saya berfikir nanti juga akan makan disana toh. Habis maghrib itu berangkatlah saya dengan teman-teman yang lainnya. Sesampai disana kami disambut dengan ramah oleh yang punya hajat, kemudian kami dipersilahkan masuk untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Namun alangkah terkejutnya saya sewaktu melihat jamuan makannya yang tersedia, disitu hanya ada kacang kulit ‘ala kampung’ (jadi jangan dibayangin kalo kacang kulitnya seperti kacang kulit yang bermerk ya) , oh ya disini kacang kulit mendominasi, beberapa snack (merk2nya juga nggak dikenal lagi) dan softdrink (merk terkenal, tapi saya ragu karena rasanya lain, jadi nampak seperti oplosan ). Jamuan makan yang langsung membuat perut saya histeris, ditambah lagi dengan tempat jamuan itu sendiri yang seperti membentuk kelompok2. Jadi ada beberapa meja bundar besar yangΒ  masing2 terdapat beberapa kursi didalamnya dimana kita disitu duduk saling berhadap-hadapan serta ada juga meja panjang yang diatur sedemikian rupa, namun intinya tetap sama dimana kita disitu saling berhadap-hadapan satu sama lain. Oh ya satu lagi yang ‘memperkeruh’ suasana pada hajatan malam itu, yaitu dengan disediakannya beberapa batang rokok dimasing-masing meja jamuan. Perfect sudah buat saya !

Pengalaman diatas adalah sebuah pengalaman yang ‘mengenaskan’ buat saya, dimana saya merasa tersiksa sekali dengan jamuan yang ada. Dalam hati saya kemudian berbisik, “Besok2 kalau ada hajatan lagi di kampung, nggak usah gede-gede ah isi amplopnya dan yang lebih utama memang harus makan dulu ya !

Tulisan ini diikutsertakan pada kontes My First Giveaway: Pengalaman Pertama

Iklan

55 thoughts on “Jamuan Makan ‘ala Kampung’

      • Yapsss… ga dikasih tau lagi itu daerah manaaa -,- hahaha…
        Sukses selalu juga om~
        btw cepet banget submitnya. Hehe kayaknya tadi sore baru kunjungan pertama ;))

        • khn ngejar deadline dari mb Una πŸ˜€
          btw jgn manggil om donk…..nnti sya disangka om genit lagi πŸ˜€
          daerahnya ada di ‘about’ saya…..lihat aja disitu…!
          rupanya mmg itu sudah tradisi disitu kalau hajatan ‘hanya’ menghidangkan jamuan yg ‘ala kadarnya’, tapi kalau urusan hiburan no.1 tuh πŸ˜€

    • ya bu….sbnrnya sya disini bukan brmksud mau melecehkan ‘orang kampung’, krn sya sendiri pd dasarnya adlh org kampung juga. Sengaja pada kata ‘org kampung’ disini sya gunakan tanda petik sebagai ungkapan halus saya…..

  1. wah…asyiknya ya..hehe.. perut tetep mengkerut dong mas.. kan cuman makan kacang dan kulitnya.. πŸ™‚

    btw, begitulah ala desa, harus menyesuaikan diri.. tapi yang saya salutkan klo di desa, makan itu sopan, dengan duduk..disuguhkan oleh pramusaji jadi nggak rebutan..klo di kota, walaupun dibilang orang kaya, datang dengan jas dan dasi, sepatu mengkilat, mobil marcedes atau apaan yg keren dah,,tetep aja klo makan,, ampun deh..bisa diliat sendiri..cuman geleng2 dah klo ngeliat seperti itu..

    tetap menginspirasi mas..!
    semoga giveaway nya sukses menginspirasi orang lain (sukses menang nggak usah berharap terlalu besar yg penting bloger lain bisa ambil hikmahnya hehe:) )
    salam,

    • mantaps sob…..justru org ‘gedongan’ yang kadang lebih kampungan…..coba kalo kt datang pada pesta pernikahan di gedung…..acaranya blm selesai tapi udah siap2 ‘didepan counter’….tkut kehabisan makanan…..!
      hanya sekedar melatih kembali jari jemariku sob….!

  2. Lain ladang lain belalang, lain tambak lain ukan nya πŸ˜†
    Saya juga pernah di undang tasyakuran dengan rekan yang berasal dari lain daerah. Dan saat selesai acara diadakan makan bersama dimana tata caranya sangat berbeda dengan yang selama ini saya ikuti (tanah Jawa). Makannya ini dilakukan bersama dengan tempat yang besar (lengser besi = apa pandanan bahasa Indonesianya ya ❓ ) dan langusng di isi nasi dan sayur serta ikan nya.
    Dengan tempat yang besar itu untuk makan sekitar 7 orang. Bisa dibayangkan gak, saya yang tidak pernah makan bercampur orang lain dalam satu piring dan saat itu makan bersama dalam wadah yang besar. Ingatanku langsung meluncur saat memberi makan ayam πŸ˜†

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  3. cuma mengabarkan bahwa saya udah pindah ke rumah baru mas bro… πŸ™‚

    Sekalian link saya diganti ya menjadi disave,,link mas bro juga udah saya pasang πŸ™‚

    Ditunggu kunjungan dan komentarnya πŸ™‚

  4. Hehe, lain tempat lain budaya ya…tapi bener lo, saya belum pernah lihat kalo hajatan hanya disuguhin kacang dan soft drink plus rokok aja… πŸ˜€
    Harus makan dulu sebelum pergi?
    Kayaknya sih iya…
    πŸ˜‰

JANGAN LUPA KOMENTARNYA YACH......!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s