Masih tentang Timnas (Indonesia)


Melihat permainan Timnas PSSI di dua laga awal kualifikasi PPD zona Asia nampak sekali adanya penurunan dalam kualitas permainan. Bagaimana tidak, secara overall bisa dikatakan spirit dan fisik sangat jauh memuaskan bila melihat permainan timnas pada saat perhelatan Piala Asia beberapa tahun yang lalu.

Pada turnamen Piala Asia 2007 itu, timnas dibawah asuhan pelatih Alfred Riedle yang asal Austria berhasil meramu permainan anak-anak Timnas yang “biasa-biasa ajah” menjadi “lebih trengginas” dengan mengandalkan fisik yang cukup prima serta spirit yang tinggi sehingga mampu memainkan gaya pressure ketat pada setiap lawannya. Hasilnya tim sekelas Korea Selatan dan Arab Saudi nyaris dibuat malu oleh anak-anak timnas. Waktu itu kita hanya kalah 0 – 1 dari Korea Selatan dan 1 -2 dari Arab Saudi. Catatan, bila saja sewaktu menghadapi Arab Saudi kita berhasil menahan draw maka Timnas akan lolos ke babak berikutnya. Sayang seribu sayang, gol di menit akhir (’89) oleh pemain Arab Saudi, Saad Al Harthy telah membuyarkan mimpi jutaan penggila bola di tanah air.

Kualitas permainan yang biasa-biasa saja memang mau tak mau harus dicover oleh fisik yang benar-benar prima (kalo menurut ane sich, ini mutlak banget!). So, bila fisik sangat prima gaya pressure ketatpun tidak jadi masalah buat anak-anak timnas nantinya. Pressure ketat setidaknya akan merusak gaya permainan tim lawan, dan ini sudah dibuktikan pada perhelatan turnamen Piala Asia 2007 yang lalu. Kalaupun kita kalah tentunya kekalahan tipis yang kita alami dan yang pasti semangat juang anak-anak Timnas pada saat itu telah diapresiasi oleh jutaan penggila bola di tanah air.

Bagaimana halnya melihat kualitas permainan Timnas asuhan Wim Rijsbergen saat ini? Menurut asumsi saya, fisik masih jauh dari harapan ideal. Saya tidak tahu apakah ada pengaruh yang cukup signifikan dari bulan ramadhan terhadap kualitas latihan Timnas pada saat itu. Kemudian bagaimana pula halnya dengan spirit? Saya berasumsi lagi tentunya sangat erat kaitannya antara spirit dengan fisik yang prima. Kalaupun pada akhirnya anak-anak Timnas (masih) memiliki spirit namun bila tidak didukung oleh fisik yang prima, rasa-rasanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia belaka, begitupun sebaliknya.

Inti dari tulisan saya ini ingin mengatakan bagaimanapun tidak seorang pelatih bertanggungjawab terhadap kualitas permainan anak asuhannya. Dan Wim telah gagal! Kekalahan telak di kandang dari Bahrain sudah cukup membuktikannya. Terakhir buat pelatih Timnas sebelumnya, Afred Riedle dan asistennya Wolfgang……saya rindu dengan anda, karena anda telah membuat euphoria sepakbola di tanah air begitu tinggi. Bravo Timnas Indonesia……!!!

Iklan

6 thoughts on “Masih tentang Timnas (Indonesia)

    • sebelumnya trims atas kunjungannya…..kita sekarang hanya berharap semoga Timnas tidak menjadi juru kunci grup dan sisa pertandingan berikutnya menampilkan permainannya yang lebih baik dan lebih bagus….!

JANGAN LUPA KOMENTARNYA YACH......!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s