Hukuman Pancung Ala Kafilah “Surgawi”


Belakangan ini istilah “hukuman pancung” ramai dibicarakan banyak orang. Buat kita di Indonesia istilah tersebut masih sangat asing kedengarannya. Dikatakan asing karena kita tidak menerapkan hukuman seperti itu, lain halnya di negeri kaya minyak, seperti Arab Saudi, hukuman pancung adalah sesuatu hal yang biasa dan lumrah.

Bila anda biasa menonton film kolosal kerajaan mungkin ada bayangan sedikit tentang bagaimana  sebenarnya hukuman pancung itu prosesnya, tapi kalau anda adalah penggemar berat sinetron (yang penuh dengan kemewahan dan perselingkuhan), tentunya anda akan “shock” mendengarnya. Saya sendiri aja tidak bisa membayangkannya…..yang pasti kayaknya horror banget.

Proses hukuman pancung itu sendiri memang tertutup untuk umum. Didalamnya mungkin hanya ada sang eksekutor (istilah kerennya tukang jagal) dan si korban. Kalau difikir-fikir bagaimana ya perasaan si tukang jagal  ini pada saat-saat “mencekam” tersebut? Dan bagaimana pula halnya perasaan korban menjelang detik-detik terpisahnya kepala dari anggota badannya yang lain.

Anak bangsa yang selalu disebut-sebut sebagai pahlawan devisa, yaitu Ruyati – TKI asal Jawa Barat telah melalui proses itu semua. Dianggap telah membunuh majikannya, Ruyati dijatuhi hukuman pancung oleh pengadilan di Arab Saudi. Sementara itu bangsanya sendiri (baca Indonesia), “masih asyik” dengan masalah politik dan pemerintahannya yang bagaikan lingkaran setan – tak pernah tahu ujung pangkal penyelesaiannya sehingga anak-anak bangsanya “dengan leluasa” pergi ke LN mencari nafkah demi kebutuhan hidupnya.

Kepergian anak-anak bangsa ke LN sayangnya tidak mendapatkan ilmu yang memadai, mereka hanya dibekali ilmu sekedarnya. Ya, mereka hanya dibekali “ilmu moral”, yaitu bagaimana sebagai pekerja (baca TKI) harus lebih sabar, bertanggung jawab, beretika, dan bla bla bla  lainnya. Singkatnya TKI itu harus memiliki hati seperti malaikat, jadi kalo disiksa, disetrum, digebukin atau yang lainnya dech…(pokoknya yang pedih-pedih),  mereka harus diem aje….sabar …dan sabar….(gilee bener).

Bagaimana dengan Negara kita tercinta ini? Rasanya kewibawaan Negara ini semakin merosot saja. Nota kecaman protes yang dikirimkan ke Pemerintah Arab Saudi tidak digubrisnya. Rupa-rupanya Pemerintahan Arab Saudi mengadopsi peribahasa kita, “anjing menggonggong kafilah berlalu”. Ya Kafilah-kafilah “surgawi” ini hanya tersenyum mendengar gonggongan anjing-anjing goblog yang terus saja menguntitnya.

JANGAN LUPA KOMENTARNYA YACH......!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s