Siang hari itu panas begitu teriknya, namun beruntung buat sebagian orang yang dunia kerjanya difasilitasi dengan apa yang dinamakan air conditioner (AC), tentulah hal ini (mungkin) tidak berpengaruh apa-apa terhadap segala aktivitas mereka didalamnya. Sudah sepantasnya mereka harus lebih bersyukur kepada-Nya dengan apa yang diraihnya ketimbang mereka “yang tidak beruntung” – bekerja dengan peluh keringat yang tiada habisnya akibat terjangan sinar matahari.
Bila mereka (baca:“pekerja yang tidak beruntung”) disuruh memilih pastilah mereka akan memilih pekerjaan yang membuat nyaman mereka. Dan tentunya tidak hanya nyaman buat kondisi fisik mereka saja namun juga nyaman dalam arti yang lebih ideal lagi, yaitu nyaman buat fikiran mereka.
Begitulah Sunnatullah yang digariskan buat anak-anak manusia dalam kehidupan ini. Adanya siang dan malam, ada gelak tawa dan ada isak tangis, ada si kaya dan ada si miskin serta ada keindahan dan ada juga keburukan. Sunnatullah yang akan terus berjalan hingga dunia ini berakhir nantinya
***********************************************************************
Siang yang begitu terik pada saat itu, nampak dari kejauhan seorang pedagang agar-agar keliling (makanan anak-anak SD) berjalan dengan gontai memikul barang dagangannya. Nampaknya memang pedagang agar-agar keliling ini akan melalui jalan dimuka rumahku. Ya benar, dia ingin mampir sejenak ke warungku. Oh ya, aku memang mempunyai warung sederhana yang menjual sembako (sembilan bahan pokok) didalamnya.
Tiba persis didepan warungku, pedagang agar keliling ini lalu meletakkan barang dagangannya sambil kemudian melepaskan pikulannya yang sebelumnya begitu setia menemani setiap langkah kakinya berjalan. Lantas dengan sorot mata yang terlihat lelah dia berkata, “beli rokok ****** barang sebatang!”,
Saya kemudian menjawab, “Ada Pak, sebentar saya ambilkan”,
Kemudian dengan cepat saya buka etalase lalu saya ambil rokok yang dimaksud oleh pedagang ini dan kemudian memberikannya.
Dengan sedikit ingin tahu sosok pedagang keliling ini, kemudian saya menanyakan beberapa hal kepada dirinya. “Tinggalnya jauh Bang? atau dekat-dekat sini?”
Sambil sesekali mengisap rokoknya kemudian dia menjawab pertanyaan saya, “Ya, lumayan Dek! Diseberang kampung sana.”
“Sudah berkeluarga Bang?” kembali keluar pertanyaan dari mulut saya.
Kepulan asap rokoknya nampak terlihat semakin liar mendengar pertanyaan saya ini. “Sudah Dek!”, anak saya sudah lima.”
Singkatnya setelah pedagang keliling itu berlalu dari warung saya timbul gejolak dalam fikiran saya. Saya trenyuh dan tak terasa mata ini berkaca-kaca, merasa sedih sekali rasanya telah menjual rokok kepada pedagang keliling ini. Dalam hati saya berujar, “berapa sich untungnya jualan makanan seperti itu, tentunya tidak banyak bukan!” Kalau dia berhenti ditiap titik warung untuk sekedar membeli sebatang rokok tentunya keuntungan yang seharusnya dia dapat akan berkurang atau malah habis pastinya. Kalau saja pedagang ini tidak merokok mungkin hasil dari keuntungannya sebagian bisa ditabung untuk kedepannya kelak. Ya Rabb…saya merasa berdosa sekali telah “mendzalimi” keluarga pedagang ini. Maafkan aku Ya Rabb…!
Sejak saat itu aku tidak menjual lagi rokok di warungku. Memang terlihat aneh dan terkesan tidak biasa bila sebuah warung tidak menyediakan rokok buat pembelinya. Biarlah…kalau kita menuruti apa saja kata dunia mungkin tidak akan pernah tercapai apa itu sebuah kepuasan.
Menutup postingan saya kali ini sepertinya maknyoos juga kalo kita mendengarkan lagunya Alphaville “Big In Japan” terus dilanjut dengan “Forever Young”..…asyiiiiikkk…..cekidot bro and sista!







Hhmm, memang kalau direnungi apa yang sampean tulis adalah benar,, bahkan secara tidak langsung kita turut menjerumuskan pembeli ke arah yanggak baik yakni dengan menjual rokok..
sebuah pelajaran berharga..
Oleh: Anas on Desember 28, 2011
at 12:44 pm
rokok itu secara tidak langsung membuat miskin orang2 spt sya gambarkan diatas sob…
kasihan sekali aku waktu itu ngeliatnya….
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 1:19 pm
Memang benar, mungkin kalau hasil jerih payahnya tidak dibelikan satu buah rokok. Pasti bisa merubah kehidupannya, tentunya dengan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung.
Oleh: danyf5habibi on Desember 28, 2011
at 1:12 pm
benar sekali sob….
di tokoku sekarang ngga jual rokok !
trims sdh berkunjung !
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 3:47 pm
nyesel baca postingannya, jadi kebayang tukang jualan yang suka ngider lewat depan rumah
bagusnya mas ben ngga jual lagi rokok di warungnya, scara tidak langsung ikut menjaga kesehatan paruparu masyarakat mas
Oleh: misstitisari on Desember 28, 2011
at 2:13 pm
koch nyesel:-(
btw lagunya suka khan…?
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 3:38 pm
Ya, bener banget. Aku pernah baca dimana gitu rokok merupakan pos pengeluaran besar (atau mungkin terbesar) di beberapa kalangan akar rumput. Trenyuh memang ya melihatnya padahal mereka ada banyak hal lain yang sebenarnya sebaiknya bisa diperhatikan, misalnya pendidikan anaknya, dsb.
Oleh: zilko on Desember 28, 2011
at 5:20 pm
kalo saja post dari ngerokok itu bisa ditabung tentunya sebuah pembelajaran yg amat bagus buat org spt pedagang yg sya gambarkan diatas.
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 7:07 pm
Ternyata Abangku ini memiliki hati yang sangat mulia. saya jadi terharu baca ceritanya Mas. Kasihan juga ya Bapak itu, sudah punya anak lima sementara penghasilannya tidak seberapa dari berdagang keliling. ada biknya sih Bapak itu tidak merokok kan bisa ngirit pengeluaran. Nah terus ntar kalau ada yang nyari rokok di warungnya gimana dong bang? Sebenarnya menurut saya gak apa-apa Bang Ben jualan rokok lagi karena orang yang biasa menjadi langganannya ntar pindah ke lain hati, eh salah kelain warung dong.
Semoga warungnya tetap rame pembeli Bang. Amin.
Oleh: Hanya Ingin Berbagi on Desember 28, 2011
at 6:44 pm
khan yang memberi rezeki bukan manusia sob….
diawal-awal mmg cukup berpengaruh thd omzet pemasukan, tapi “nilai kebahagiaan” yg sya terima sekarang jauh lebih bernilai dibanding dulu waktu di toko sya menyediakan rokok…
ya mudah-mudahan Rabb menggganti ini semua dengan yang lebih baik tentunya….dan sya yakin itu !
btw rumahnya udah nambah lagi nich….kereeen sob…
sukses slalu ya !
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 7:12 pm
Sulit deh…
Aku sudah ngasih tau emak, supaya gak usah jualan rokok di warung beliau. Tapi emak masih tetap bertahan
Oleh: kakaakin on Desember 28, 2011
at 6:50 pm
yg penting kita sudah menyampaikan mb…
sulit mmg awalnya…tapi alhamdulillah toko sya skrg sdh kembali normal..
sya yakin Rabb akan mengganti dgn yang lebih baik dari ini semua…aamiin !
“di push” trus emaknya biar hatinya luluh utk tidak menjual rokok lagi..
trims sdh mmpir mb….
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 7:22 pm
Semoga mendapatkan income pengganti yang lebih besar dari income yang tadinya didapatkan dari berjualan rokok..
Oleh: Ni Made Sri Andani on Desember 28, 2011
at 8:05 pm
aamiin…
trims ya buat mb Ni Made…sukses juga untuk anda !
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 8:25 pm
jangan jual rokok lagi dong
moga tetep rame tokona yah
Oleh: liamareza on Desember 28, 2011
at 8:06 pm
iya mb…alhmdlh udah mantabs koch
aamiin…trims atas supportnya !
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 8:24 pm
terharu…..
semoga keluarganya si abang diberikan kehidupan yang lebih baik kedepan, amiin
Oleh: Mila on Desember 28, 2011
at 8:36 pm
aamiin…
trims mb….!
Oleh: bensdoing on Desember 28, 2011
at 9:07 pm
rokok….merokok uang dan merokok paru-paru…
Oleh: Budi Nurhikmat on Desember 29, 2011
at 12:02 am
bahasa penyair mmg beda ya…:D
Oleh: bensdoing on Desember 29, 2011
at 6:10 pm
nggak sempat dipotret ya Bens abang penjual agar agar itu ?
Oleh: Ely Meyer on Desember 29, 2011
at 12:05 am
ngga sempat mb…udah haru duluan…
mau dikejar, nanti tokonya ngga ada yg nungguin…bisa2 nnti “black-box” ada yg gerayang lagi…hahaha
Oleh: bensdoing on Desember 29, 2011
at 6:09 pm
cerita yang bagus.,
nice article.,
lam kenal ya.,
Oleh: djawa on Desember 29, 2011
at 2:03 am
Artikel yang bagus dan inspiratif…
Saya suka bagian kata2 “Biarlah…kalau kita menuruti apa saja kata dunia mungkin tidak akan pernah tercapai apa itu sebuah kepuasan”
Salam kenal..
Oleh: Aulia Rahman on Desember 29, 2011
at 10:12 am
sekedar keluhan hati nurani….
plong rasanya kalau sudah disampaikan..
salam kenal juga ya !
Oleh: bensdoing on Desember 29, 2011
at 6:06 pm
hanya ingin meramaikan rumah sobat..
menghisap rokok, sama aja membakar uang..
ayo gan, jaga kesehatan mulai dari sekarang..
Oleh: Outbound Malang on Desember 29, 2011
at 10:45 am
trims ya sob..
sukses bisnis anda ya !
Oleh: bensdoing on Desember 29, 2011
at 6:05 pm
super sekali postingan ini mas. saya dulu perokok, tapi sekarang alhamdulillah udah berhenti
Oleh: wahyu asyari m on Desember 29, 2011
at 11:39 am
alhmdlh….jangan kembali tergoda ya sob…!
Oleh: bensdoing on Desember 29, 2011
at 6:04 pm
Kenapa pedagang tersebut merokok? Karena merokok bisa melepaskan stres. Dan menjadi dirinya, memiliki lima anak, harus berdagang seperti itu, dengan keuntungan tidak begitu besar dan tantangan dari dunia setiap harinya, tekanan yang dihadapi pastilah ratusan kali lebih besar daripada kita.
Bapak pedagang itu memerlukan sarana untuk menyalurkan rasa stresnya, dan apa lagi kalau bukan rokok? Sarana paling mudah, paling gampang, paling praktis?
Ibadah bagi mereka adalah konsep semata yang tak bisa diterapkan langsung dalam kehidupan mereka. Dan itu bukan salah mereka semata-mata, mereka dibesarkan dalam kehidupan seperti itu. Tidak seperti kita.
——- ——-
Saya mendukung keputusan mas dalam berhenti berjualan rokok. Dan semoga kita semua bisa menjadi individu yang lebih baik… Amin…
Oleh: Ahmad Alkadri on Desember 29, 2011
at 12:40 pm
sya tidak menyalahkan pedagang agar2 itu sob….tapi sarana yg membuat sipedagang itu “terpaksa” membeli rokok itulah yg sya permasalahkan. tentunya kalau tidak ada sarana (toko yg menjual rokok) pastilah sipedagang ini akan aman dari godaan utk mengkonsumsi tembakau tersebut.
Kalo menyinggung masalah stress yg dihadapi…disinilah mungkin titik pokok yg harus kita pecahkan bersama, membiarkan stress dengan jalan menyalurkan hobi dengan mengisap rokok bukanlah suatu jalan keluar yang bijak karena akan membuat sebuah persoalan baru lagi.
Apakah kita rela menari-nari dengan menangguk keuntungan yang besar sementara nun jauh disana banyak orang2 berusaha menghilangkan stressnya dgn asap rokok yg justru tiada berguna manfaatnya.
sya hargai juga argumen dari anda…
trims sob…sukses slalu ya !
Oleh: bensdoing on Desember 29, 2011
at 6:01 pm
Wow , ,aku juga benci rokok ?
,sangat benci
Oleh: oriie rianzy on Desember 29, 2011
at 4:11 pm
benci rokok boleh….tapi tembakaunya jangan ya…
ditangan org cerdas sptnya tembakau bisa dijadikan sesuatu yang bermanfaat ketimbang dijadikan rokok !
Oleh: bensdoing on Desember 29, 2011
at 6:03 pm
Nitip bro
http://irvansymbian.wordpress.com/2011/12/29/skin-omnia-theme-for-xplore-1-53/
Oleh: irvansymbian on Desember 29, 2011
at 8:02 pm
uang sewanya ya sob….
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:21 pm
pengen bilang sama penjaga warung itu: anda telah ikut serta memperbaiki ekonomi dunia dan membantu mengurangi global warming *jempol*
Oleh: Angga on Desember 29, 2011
at 8:45 pm
trims buat jempolnya…!
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:20 pm
hmmmm, kalo masalah rokok dhe angkat tangan dah.. soalnya boleh dibilang, dhe hidup di lingkungan yang semuanya adalah perokok.. meskipun udah sering bilangin untuk sedikit mengurangi dan bahkan berhenti, tapi tetap aja om semuanya pada bertahan.. rokok kan bikin kencanduan..
Oleh: Dhenok Habibie on Desember 29, 2011
at 11:11 pm
yang candu itu senantiasa berakibat buruk nantinya…!
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:20 pm
udah hampir sebulan gak ngerokok,entah tahan sampai kapan.
Oleh: riez on Desember 30, 2011
at 12:01 am
lumayan dapat sebulan….tahan terus sob sampai setahun….heheheh
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:19 pm
Rokok itu lebih banyak mudharatnya, bahkan manfaatnya bisa dibilang tidak ada. Sesaat saja. Jadi, ini keputusan yang bijak Mas Bens
Oleh: Falzart Plain on Desember 30, 2011
at 6:58 am
trims sob atas supportnya…!
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:18 pm
betul mas… yg penting sesuai hati nurani, jgn hanya mikir materi… salut…!!
Oleh: meidy on Desember 30, 2011
at 8:37 am
hati nurani mmg harus senantiasa dikedepankan disini…
trims sdh berkunjung !
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:17 pm
Ceritanya merakyat banget, lagunya juga maknyus!
Oleh: giewahyudi on Desember 30, 2011
at 10:10 am
khan kita semua rakyat sob…
tahu dengan lagunya…!
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:16 pm
anehnya banyak perokok yang sebenarnya untuk keperluan sehari-hari saja susah, masih tetap juga merokok, menggerogoti pendapatan yang tak seberapa belum lagi menggerogoti kesesahatannya
Oleh: sunarno2010 on Desember 30, 2011
at 12:59 pm
inilah seharusnya yg harus difahami oleh para produsen rokok…
Oleh: bensdoing on Desember 30, 2011
at 3:14 pm
*malah jadi tertarik sama lagunya dibanding isi ceritanya sendiri * #ehhh
*dijitak masben*
*kabur*
Oleh: veera on Desember 30, 2011
at 11:59 pm
MasyaAllah
suka sekali dengan pikiran ben yang, “Ya Rabb…saya merasa berdosa sekali telah “mendzalimi” keluarga pedagang ini. Maafkan aku Ya Rabb…!”
^^ menurutku itu Subhanallah sekali
Oleh: maya on Januari 1, 2012
at 4:42 am
kadang kala orang yang membeli itu tau dia miskin tapi apakan daya die tidak boleh kalau tidak hisap rokok. susah mahu berhenti..
Oleh: duan on Januari 3, 2012
at 7:02 pm
sarananya mmg harus “dipotong” sob…biar org2 spt itu tidak dapat membeli lagi…
trims kunjungannya !
Oleh: bensdoing on Januari 4, 2012
at 8:36 am
Dilematis memang, nggak bisa komen, Bens…karena sudut pandang tiap orang pasti berbeda.
Smoga rezeki penjual agar-agar dan kita semua selalu dimudahkan oleh Allah Swt.
Amin.
Oleh: bintangtimur on Januari 9, 2012
at 7:13 pm
sya turut mengaminkan ya mb:-)
Oleh: bensdoing on Januari 9, 2012
at 7:23 pm